SEJARAH

Asalha Maha Puja

Asalha puja (Asadha puja) adalah puja kepada Buddha pada saat purnama di bulan Asalha. Asalha adalah nama bulan dalam penanggalan Buddhis, dua bulan setelah bulan Waisak.

Asalha puja memperingati saat pertama kalinya Buddha membabarkan Dhamma dan terbentuknya Tiga Permata (Tiratana), yaitu Permata Buddha, Permata Dhamma dan Permata Sangha.

Sejarah Peristiwa Suci Asalha

Dua bulan setelah mencapai Kesempurnaan, Brahma Sahampati bermohon kepada Sang Buddha, agar Sang Buddha mengajarkan Dhamma (Dharma) kepada umat manusia. Sang Buddha melihat dengan mata batinnya, bahwa ada lima petapa yang bisa menerima dan mengerti Ajaran-Nya. Kemudian Buddha datang mengajarkan Dhamma kepada lima petapa tersebut. Peristiwa ini terjadi pada saat purnama di bulan Asalha.

Pada saat itu, Buddha membabarkan khotbah-Nya yang dikenal sebagai Khotbah Pemutaran Roda Dhamma yang Pertama (Dhammacakkappavattana Sutta). Ajaran ini sangat mendalam artinya, dan membukakan mata umat manusia bahwa kehidupan ini diwarnai perubahan yang menimbulkan
penderitaan, dan ada jalan untuk mengakhiri penderitaan itu.

Dalam khotbah tersebut, Sang Buddha membabarkan Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ariya Saccani / Catur Arita Satyani), yang terdiri dari:

  1. Kebenaran Mulia tentang Dukkha
    Kelahiran adalah penderitaan (dukkha), usia tua atau kelapukan adalah penderitaan, sakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan, bertemu dengan yang tidak menyenangkan adalah penderitaan, berpisah dengan yang menyenangkan adalah penderitaan, tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan. Secara singkat, kemelekatan pada lima kelompok kehidupan (pancupadanakkhanda) adalah penderitaan.
  2. Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha
    Keinginan (tanha) menyebabkan kelahiran kembali, yang disertai dengan nafsu. Ini adalah keinginan atas kesenangan indera (kāmatanhā), keinginan akan kelangsungan (bhavatanhā), dan keinginan atas pemusnahan (vibhavatanhā).
  3. Kebenaran Mulia tentang Lenyapya Dukkha
    Penderitaan (dukkha) akan berakhir saat nafsu keinginan (tanha) dilenyapkan. Musnahnya kesenangan tersebut akan menghentikan penderitaan.
  4. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha
    Jalan menuju lenyapnya dukkha adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar.

Setelah membabarkan Ajaran pertama ini, petapa tertua –Kondanna- mencapai kesucian, kemudian disusul yang lainnya. Kelima petapa ini memohon kepada Sang Buddha untuk diterima sebagai murid-Nya, dan Sang Buddha mentahbiskan mereka sebagai Bhikkhu pertama. Terbentuklah persaudaraan para Bhikkhu (Sangha).

Dengan demikian, lengkaplah Tiga Permata (Buddha, Dhamma, Sangha) yang menjadi pelindung (Tisarana, Tiga Perlindungan) bagi setiap umat Buddha. Peristiwa ini terjadi pada saat purnama di Bulan Asalha, tahun 588 SM, di Taman Rusa Isipatana, Benares (sekarang Sarnath, India). Inilah yang
diperingati umat Buddha di seluruh dunia sebagai Asalha Puja, atau Puja di Hari Suci Asalha.

Asalha dari bahasa Pali, Asadha dari Bahasa Sansekerta. Bahasa Pali adalah bahasa yang digunakan semasa kehidupan Buddha.

Puja yang dilaksanakan bersamaan denga Indonesia Tipitaka Chanting ini adalah Asalha Mahapuja (Puja Bakti Agung Asalha), karena puja ini diikuti oleh belasan ribu umat Buddha dan dilaksanakan di pelataran Candi Borobudur, yang diawali dengan Prosesi Relik Agung Buddha Gotama dari Candi Mendut ke Candi Borobudur.

Daftarkan diri Anda untuk bisa mengikuti acara ITC & Asalha.

Daftar Sekarang